Sabtu, 20 April 2013
Good bye
Geraham bungsu
Sehabis pengajian di sekolah tadi pagi kira-kira pukul 11`an
saya menghubungi dokter Olivia, dokter bedah mulut. Memastikan jam berapa saya
bisa kesana dan dia pun membalas sms ku. Sehabis post test drg kira-kira jam
11.30. Maka saya pun pergi bergegas ke USU tepatnya departemen bedah mulut
melalui pintu 3 usu ditemani dengan Bu Tari, yang merupakan alumni USU jurusan
MIPA. Dengan Bu Tari yang menemani rasa khawatirku agak sedikit berkurang
paling tidak Bu Tari lebih mengenal wilayah ini. Kami pun ke areal USU sambil
mencari-cari. Setelah membaca beberapa penunjuk jalan kami belok ke kiri terus
mencari dan sampai lah kami di Auditorium FKG. Saya memarkirkan motor saya di
situ kemudian bertanya kepada Mahasiswa yang sedang berjalan dan mereka pun
menunjukkan jalan yang ingin kami tuju.
Sampai lah di Depatemen Bedah Mulut, kemudian saya mencoba
menghubungi drg. Lili. Dan dokter tersebut mengarahkan saya ke Kak Butet
(bahasa drg Lili). Saya pun masuk menanyakan buk butet dan buk butet pun
menanyakan foto gigi saya dan meminta saya untuk menunggu panggilan di luar.
Untungnya semalam saya sudah memastikan nama mama Najwa sehingga tadi ketika
dipanggil saya tidak begitu tampak aneh walaupun sedikit lucu. Karena ketika
saya dipanggil dengan sebutan “Pasien Dr. Riah” saya gak connect. Namun agar
tidak kalah malu saya balik bertanya “Dr. Nuriah ya dok” hehehehe….untung saya
masih ingat namanya.
Saya pun mulai memasuki ruangan itu. Perasaan takut sudah
mulai muncul, aku pun terus berdoa dan berdoa sambil menunggu dokter Lili.
Akhirnya saya diminta untuk masuk ke ruang operasi. Ya Allah, takutku
bertambah. Ku sms bu Tari minta didoakan.
Aku berbaring di tempat tidur operasi tersebut, mereka
hidupkan lampu dan menutupiku dengan selimut rumah sakit berwarna hijau
kemudian menutupi mataku. Salah satu dokter berkata, “ Tolong ambilkan alat
bengkel kita”. Astaghfirullahaladzim, kenapa harus dibilang alat bengkel takut
ku pun semakin menjadi. Tidak berapa lama mereka meletakkan beberapa alat bedah
mereka di atas selimutku. Kemudian memintaku membuka mulut dan memberi aba-aba
kepadaku bahwa mereka akan memberikan suntikan di mulutku. Agak asing, kaget,
dan perih sedikit. Hatiku pun komat kamit (soalnya mulut gak bisa gerak) berzikir dan sholawat. Memohon kemudahan
dan perlindungan dari Allah. Setelah itu mendengar bunyi alat seperti grenda
alat perbengkelan yang sering digunakan abangku ketika memotong besi atau
keramik. Ya Allah, takutku semakin menjadi tapi aku coba pasrah. Kubuka
lebar-lebar mulutku. Namun ada sedikit kekhawatiran kalau alat tersebut
mengoyak mulutku atau melukai lidahku. Naudzubillah summa naudzubillah, selama
operasi mulut ku terasa kaku tapi pikiran ku sadar. Aku dengar semua yang
mereka katakan, bahkan dr Lili berkata,
“bandel giginya”. Ya Allah, aman kah ini? Benarkah pilihanku untuk
menjalankan operasi ini?” terlambat gigiku sudah setengah perjalanan. Aku
merasakan mereka menekan gusiku, mencongkel-congkel. Banyak yang mereka lakukan
dan aku hanya bisa merasakan dan berdoa agar semua ini segera berlalu. Setelah
tidak beberapa lama, saya merasa seperti ada tembakan kecil di bagian mulutku
disambut dengan benang yang menyenggol-nyenggol gigi-gigiku. Aku pun mulai
tenang, aku yakin sudah mau selesai dan sesi ini merupakan sesi penjahitan bekas
Lukas di gusiku. Setelah itu mereka membersihkan cairan-cairan yang berserak di
sekitar mulutku (mungkin darah ketika operasi tadi) dengan kain yang dibasahi
air es atau apalah itu yang jelas kain tersebut dingin. Ketika operasi tadi aku
sempat mengeluarkan air mata dan kesakitan ketika mereka menekan dan menarik
sesuatu di dalam gusiku. I feel suffering at that time. I don`t know what
should I do. Just pray to Allah. Aku terus berdoa, sempat terlintas dalam
diriku. Apakah ini akhir hidupku, Astaghfirullahaldzim, ampuni hamba ya Allah.
Sampai selesai pun air mata saya masih tersisa di sudut mata.
Alhamdulillah, selesai mereka memintaku untuk berbaring di
ruang lain sambil beristirahat. Setelah itu drg Lili menyarankan untuk menekan
kain kasa yang ada di gigi ku. Tidak boleh minum, meludah apalagi berkumur jadi
harus dijaga selama 1 jam. Setelah satu jam baru boleh berkumur secara perlahan
dan meminum 3 macam obat dari 4 obat yang ada di list. Sedangkan obat yang
keempat yaitu obat berkumur digunakan esok hari. Drg. Lili mengingatkan saya
untuk senantiasa menjaga kebersihan rongga mulut karena sangat berpengaruh pada
kesembuhan. Malam ini saja saya sudah dianjurkan gosok gigi tentunya perlahan
dan dengan lembut kemudian makan-makanan berkuah dan menguyah di sisi gigi yang
lain yaitu sebelah kiri karena yang dioperasi sebelah kanan. Dr. sudah
mewanti-wanti saya besok mungkin sudah mulai bengkak besar jadi ia mengingatkan
untuk mengompres bengkaknya. Dan menyarankan untuk minum air yang dingin, tidak
boleh hangat apalagi panas bisa lonyot….hehehehe…. Kemudian dia memberikan
kartu nama, apabila saya mengeluh sesuatu saya boleh menghubunginya dan hari
Senin kembali ke USU untuk control bekas operasi tadi. Selesai sudah di bagian
administrasi, awalnya kwitansi diisi dengan biaya Rp 1,5 Jt. MasyaAllah, saya
gak bawa uang sebanyak itu kemudian memberitahukan perawat admin tersebut bahwa
saya rekomendasi drg Riah dan katanya saya akan dimasukkan ke dalam kategori
mahasiswa jadi biaya nya tidak segitu. Akhirnya perawat tadi bertanya kepada
drg. Lili dan drg itu mengiyakan sehingga biaya yang harus saya bayar ada Rp 1
Jt. Belum lagi biaya untuk membeli resep, 4 macam obat yang harus ditebus (Danalgin
kaplet Antalgin Diazepam untuk antibiotic dan denyut, Cataflam 250mg untuk
nyeri, STAFORIN 500 Cefadroxil Monohydrate untuk obat tidur kalau tidak salah
dan ALOCLAIR PLUS ORALRINSE untuk berkumur selama 1 menit dan setelah berkumur
tidak boleh berkumur dengan air lagi) jadi total obat yang harus ditebus
sekitar Rp 200 ribuan. Ya Allah segala penyakit dan kesembuhan ada di dalam
Kuasa Mu ya Allah maka aku berserah hanya kepada Mu Ya Allah.
Kami pun pulang
meninggalkan bangunan FKG tersebut dan mengantar Bu Tari sampai di depan pintu
3 USU sambil menemaninya makan siang. Ketika aku mau mengantarnya, dia pun
menolak dan memintaku untuk pulang duluan sedangkan dia akan naik angkot.
Sebenarnya aku jadi gak enak sama Bu Tari tapi memang aku sudah tahan menahan
perih di mulut tepatnya dimana aku juga gak tahu karena mulutku agak keram
setelah operasi tadi. Akhirnya aku pun membelokkan motorku dan pulang. Sebelum
tiba di rumah aku coba untuk singgah ke APOTIk dekat rumah untuk menebus obat
tapi ternyata 1 macam obat yang ada. Aku pun pulang. Aku parkirkan kereta,
melepas helm, meletakkan tas dan mengambil uang dari dompet dan meminta adek
untuk membelikan 3 macam obat lagi. Aku sudah tak tahan. Mamak menyarankan ku
untuk tidur. Di pangkuannya aku tertidur dan dielusnya kepalaku dan pipiku. Aku
pun tertidur sambil meneteskan air mata (maklum biusnya dah habis jadi agak dramatis)
. Kalau sudah kayak gini aku jadi pengen
dekat terus sama emak. Tidak berapa lama adekku pulang dan membawakan obat yang
sudah ditebus, 2 diantaranya dibeli di apotik dekat rumah namun yang 1 lagi
harus dibeli di apotik Kimia Farma yaitu STAFORIN yang harganya cukup mahal Rp
114.500,_. Setelah makan 3 obat tersebut Alhamdulillah sudah agak
mendingan. Goodbye GiBung…
NB: Di luar
dugaan. Luar biasa, ternyata ujian keuangan bulan ini, pajak BK 2 tahun, BBN,
Sepeda, Foto gigi, TIket ke Bandung (masih sempat aja..hehehe…), baru operasi
gibung.
Alhamdulillah
Ya Allah, ujian yang Engkau hadapkan dapat aku jalani perlahan dengan rezeki
yang Engkau titipkan sementara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar