Selasa, 07 Mei 2013

Good bye My Gigi Bungsu


Sabtu, 20 April 2013
Good bye Geraham bungsu
Sehabis pengajian di sekolah tadi pagi kira-kira pukul 11`an saya menghubungi dokter Olivia, dokter bedah mulut. Memastikan jam berapa saya bisa kesana dan dia pun membalas sms ku. Sehabis post test drg kira-kira jam 11.30. Maka saya pun pergi bergegas ke USU tepatnya departemen bedah mulut melalui pintu 3 usu ditemani dengan Bu Tari, yang merupakan alumni USU jurusan MIPA. Dengan Bu Tari yang menemani rasa khawatirku agak sedikit berkurang paling tidak Bu Tari lebih mengenal wilayah ini. Kami pun ke areal USU sambil mencari-cari. Setelah membaca beberapa penunjuk jalan kami belok ke kiri terus mencari dan sampai lah kami di Auditorium FKG. Saya memarkirkan motor saya di situ kemudian bertanya kepada Mahasiswa yang sedang berjalan dan mereka pun menunjukkan jalan yang ingin kami tuju.
Sampai lah di Depatemen Bedah Mulut, kemudian saya mencoba menghubungi drg. Lili. Dan dokter tersebut mengarahkan saya ke Kak Butet (bahasa drg Lili). Saya pun masuk menanyakan buk butet dan buk butet pun menanyakan foto gigi saya dan meminta saya untuk menunggu panggilan di luar. Untungnya semalam saya sudah memastikan nama mama Najwa sehingga tadi ketika dipanggil saya tidak begitu tampak aneh walaupun sedikit lucu. Karena ketika saya dipanggil dengan sebutan “Pasien Dr. Riah” saya gak connect. Namun agar tidak kalah malu saya balik bertanya “Dr. Nuriah ya dok” hehehehe….untung saya masih ingat namanya.
Saya pun mulai memasuki ruangan itu. Perasaan takut sudah mulai muncul, aku pun terus berdoa dan berdoa sambil menunggu dokter Lili. Akhirnya saya diminta untuk masuk ke ruang operasi. Ya Allah, takutku bertambah. Ku sms bu Tari minta didoakan.
Aku berbaring di tempat tidur operasi tersebut, mereka hidupkan lampu dan menutupiku dengan selimut rumah sakit berwarna hijau kemudian menutupi mataku. Salah satu dokter berkata, “ Tolong ambilkan alat bengkel kita”. Astaghfirullahaladzim, kenapa harus dibilang alat bengkel takut ku pun semakin menjadi. Tidak berapa lama mereka meletakkan beberapa alat bedah mereka di atas selimutku. Kemudian memintaku membuka mulut dan memberi aba-aba kepadaku bahwa mereka akan memberikan suntikan di mulutku. Agak asing, kaget, dan perih sedikit. Hatiku pun komat kamit (soalnya mulut gak bisa gerak) berzikir dan sholawat. Memohon kemudahan dan perlindungan dari Allah. Setelah itu mendengar bunyi alat seperti grenda alat perbengkelan yang sering digunakan abangku ketika memotong besi atau keramik. Ya Allah, takutku semakin menjadi tapi aku coba pasrah. Kubuka lebar-lebar mulutku. Namun ada sedikit kekhawatiran kalau alat tersebut mengoyak mulutku atau melukai lidahku. Naudzubillah summa naudzubillah, selama operasi mulut ku terasa kaku tapi pikiran ku sadar. Aku dengar semua yang mereka katakan, bahkan dr Lili berkata,  “bandel giginya”. Ya Allah, aman kah ini? Benarkah pilihanku untuk menjalankan operasi ini?” terlambat gigiku sudah setengah perjalanan. Aku merasakan mereka menekan gusiku, mencongkel-congkel. Banyak yang mereka lakukan dan aku hanya bisa merasakan dan berdoa agar semua ini segera berlalu. Setelah tidak beberapa lama, saya merasa seperti ada tembakan kecil di bagian mulutku disambut dengan benang yang menyenggol-nyenggol gigi-gigiku. Aku pun mulai tenang, aku yakin sudah mau selesai dan sesi ini merupakan sesi penjahitan bekas Lukas di gusiku. Setelah itu mereka membersihkan cairan-cairan yang berserak di sekitar mulutku (mungkin darah ketika operasi tadi) dengan kain yang dibasahi air es atau apalah itu yang jelas kain tersebut dingin. Ketika operasi tadi aku sempat mengeluarkan air mata dan kesakitan ketika mereka menekan dan menarik sesuatu di dalam gusiku. I feel suffering at that time. I don`t know what should I do. Just pray to Allah. Aku terus berdoa, sempat terlintas dalam diriku. Apakah ini akhir hidupku, Astaghfirullahaldzim, ampuni hamba ya Allah. Sampai selesai pun air mata saya masih tersisa di sudut mata.
Alhamdulillah, selesai mereka memintaku untuk berbaring di ruang lain sambil beristirahat. Setelah itu drg Lili menyarankan untuk menekan kain kasa yang ada di gigi ku. Tidak boleh minum, meludah apalagi berkumur jadi harus dijaga selama 1 jam. Setelah satu jam baru boleh berkumur secara perlahan dan meminum 3 macam obat dari 4 obat yang ada di list. Sedangkan obat yang keempat yaitu obat berkumur digunakan esok hari. Drg. Lili mengingatkan saya untuk senantiasa menjaga kebersihan rongga mulut karena sangat berpengaruh pada kesembuhan. Malam ini saja saya sudah dianjurkan gosok gigi tentunya perlahan dan dengan lembut kemudian makan-makanan berkuah dan menguyah di sisi gigi yang lain yaitu sebelah kiri karena yang dioperasi sebelah kanan. Dr. sudah mewanti-wanti saya besok mungkin sudah mulai bengkak besar jadi ia mengingatkan untuk mengompres bengkaknya. Dan menyarankan untuk minum air yang dingin, tidak boleh hangat apalagi panas bisa lonyot….hehehehe…. Kemudian dia memberikan kartu nama, apabila saya mengeluh sesuatu saya boleh menghubunginya dan hari Senin kembali ke USU untuk control bekas operasi tadi. Selesai sudah di bagian administrasi, awalnya kwitansi diisi dengan biaya Rp 1,5 Jt. MasyaAllah, saya gak bawa uang sebanyak itu kemudian memberitahukan perawat admin tersebut bahwa saya rekomendasi drg Riah dan katanya saya akan dimasukkan ke dalam kategori mahasiswa jadi biaya nya tidak segitu. Akhirnya perawat tadi bertanya kepada drg. Lili dan drg itu mengiyakan sehingga biaya yang harus saya bayar ada Rp 1 Jt. Belum lagi biaya untuk membeli resep, 4 macam obat yang harus ditebus (Danalgin kaplet Antalgin Diazepam untuk antibiotic dan denyut, Cataflam 250mg untuk nyeri, STAFORIN 500 Cefadroxil Monohydrate untuk obat tidur kalau tidak salah dan ALOCLAIR PLUS ORALRINSE untuk berkumur selama 1 menit dan setelah berkumur tidak boleh berkumur dengan air lagi) jadi total obat yang harus ditebus sekitar Rp 200 ribuan. Ya Allah segala penyakit dan kesembuhan ada di dalam Kuasa Mu ya Allah maka aku berserah hanya kepada Mu Ya Allah.

Kami  pun pulang meninggalkan bangunan FKG tersebut dan mengantar Bu Tari sampai di depan pintu 3 USU sambil menemaninya makan siang. Ketika aku mau mengantarnya, dia pun menolak dan memintaku untuk pulang duluan sedangkan dia akan naik angkot. Sebenarnya aku jadi gak enak sama Bu Tari tapi memang aku sudah tahan menahan perih di mulut tepatnya dimana aku juga gak tahu karena mulutku agak keram setelah operasi tadi. Akhirnya aku pun membelokkan motorku dan pulang. Sebelum tiba di rumah aku coba untuk singgah ke APOTIk dekat rumah untuk menebus obat tapi ternyata 1 macam obat yang ada. Aku pun pulang. Aku parkirkan kereta, melepas helm, meletakkan tas dan mengambil uang dari dompet dan meminta adek untuk membelikan 3 macam obat lagi. Aku sudah tak tahan. Mamak menyarankan ku untuk tidur. Di pangkuannya aku tertidur dan dielusnya kepalaku dan pipiku. Aku pun tertidur sambil meneteskan air mata (maklum biusnya dah habis jadi agak dramatis)
. Kalau sudah kayak gini aku jadi pengen dekat terus sama emak. Tidak berapa lama adekku pulang dan membawakan obat yang sudah ditebus, 2 diantaranya dibeli di apotik dekat rumah namun yang 1 lagi harus dibeli di apotik Kimia Farma yaitu STAFORIN yang harganya cukup mahal Rp 114.500,_. Setelah makan 3 obat tersebut Alhamdulillah sudah agak mendingan.   Goodbye GiBung… 
NB: Di luar dugaan. Luar biasa, ternyata ujian keuangan bulan ini, pajak BK 2 tahun, BBN, Sepeda, Foto gigi, TIket ke Bandung (masih sempat aja..hehehe…), baru operasi gibung.
Alhamdulillah Ya Allah, ujian yang Engkau hadapkan dapat aku jalani perlahan dengan rezeki yang Engkau titipkan sementara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar