Sabtu, 06 Juli 2019

Hagia Shopia ala Tangerang

Perjalanan unpredictable lebih sering meninggalkan banyak cerita. Tadi malam tanpa direncanakan saya bareng teman pergi ke mesjid Al A'zhom. Katanya sih mesjid tanpa tiang atau pilar. Jadi, kita pergi ke sana. Ke tempat yang memang tidak masuk dalam list kunjungan. Kita pergi naik grab dari Panarub ke Jalan Satria. Sampai di sana saya benar-benar takjub dibuatnya. Designnya yang memang bagus plus ada galeri Islaminya. Dan membuat saya makin takjub setelah selesai sholat Isya kita rencana makan kerak telur di sekitaran luar pagar mesjid. Pas kita keluar dan motoin beberapa sisi mesjid. Saya terpana hasil fotonya mirip Aya Sofya nya Turki. Atau sering ditulis Hagia Shopia. Gak cuma itu, kita keluar terus jalan sampai melihat kuliner terus kita pesan kerak telur. Dan saya baru nyadar kalau ternyata mesjid Al A'zhom dekatan dengan Balai kota Tangerang. Terus pas di seberang mesjid atau di depan Balai Kota ada rumput sintetis yang lumayan luas. Banyak orang duduk di sana. Dan yang bikin takjub lagi, pas mau cari-cari spot foto. Eh, pas dapet sudut foto yang bikin tempat ini jadi makin mirip sama Aya Sofya (ini menurut saya ya yang mungkin emang mupeng ke Turki)...  😁

Unpredictable moment bikin mesem2. 😊

Belajar Menikmati Realita 😁

Setiap perjalanan selalu ada cerita. Kalau ditanyak pastinya menginginkan cerita yang menyenangkan sesuai dengan harapan tapi ya realita jarang sesuai dengan harapan. Kalau dibawakan ke hati bawaannya pasti banyak ngedumelnya ketika perjalanan bertolak belakang abis-abisan dengan harapan. Bayangin aja, planning sudah sampai pada khayalan menjejal banyak tempat-tempat yang bisa jadi unforgetable moments tapi pas realita kejebak macet di jalan tol abis-abisan dari pagi jam 10 sampe saat ini tepat sore jam 15.30 dan perjalanan masih jauh mencapai gerbang tol.
Kalau dipikir pakai logika terus ngebayangin planning yang sudah berasa cemerlang. Pasti yang ada emosi jiwa terus panjang angan-angan. Kalau saja tadi gak naik ini, kalau tadi berangkat lebih pagi, kalau tadi gak buat tujuan kesini, pasti .... pasti... bla bla bla...Wahhh penat lah pokoknya. Tapi yang jelas balik ke niat dah. Awal melakukan perjalanan kan mau refreshing trus seneng2. Moga2 Allah kasih hikmah dalam perjalanan. Kan hakikatnya senang itu bawaannya dari dalam diri. Banyakin syukur aja lah ya karena dah bisa sampe sini...😁. Belajar menikmati proses aja deh...😉

Minggu, 03 Februari 2019

NHW#1*ADAB MENUNTUT ILMU*


Nama saya Anim dari Medan. Untuk NHW kali ini saya akan menyampaikan salah satu jurusan ilmu yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan ini yaitu, tahsin Al Qur`an.
Hal-hal yang melatarbelakangi pilihan saya ini adalah, karena Al Qur`an itu mulia. Semua yang dihubungkan atau berhubungan dengan Al Qur`an maka langsung mendapatkan kemuliaan. Seperti bulan Ramadhan, yang menjadi mulia karena menjadi waktu dimana Qur`an diturunkan. Malaikat Jibril, penyampai wahyu (Al Qur`an) dan menjadi pemimpin para Malaikat. Nabi Muhammad saw, yang mendapatkan mukjizat berupa Al Qur`an, menjadi Nabi pilihan yang semua nabi Allah bersholawat atas nya. Para penghafal Qur`an, yang menjadi mulia bahkan menjadi ahlul Qur`an (keluarga Allah) karena menjaga Al Qur`an di dalam hati dan pikirannya. Dan bagi saya, mempelajari ilmu tahsin merupakan langkah awal bagi saya untuk bisa membersamai dengan Al Qur`an. Di sisi lain, ingin terlibat untuk mengurangi angka buta aksara arab yang ternyata tidak sedikit. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan dalam proses ini karena memang banyak hal-hal yang kadang menyebabkan jatuh bangun mempertahankan komitmen belajar tahsin ini. Harapannya semoga semua proses yang dilakukan ini bisa menjadi jalan untuk bisa istiqomah setelah berhijrah. Aamiin



Beberapa strategi yang saya rencanakan dalam menuntut ilmu tahsin, yang pertama adalah dengan membekali diri terlebihi dahulu dengan mengikuti  program-program tahsin baik offline maupun online. Serta, mengikuti kegiatan seminar atau kajian-kajian umum yang berkaitan dengan ilmu tahsin dan tahfidz Al Qur`an.
Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap yang ingin diperbaiki dalam proses mencari ilmu adalah lebih banyak berlatih untuk memperbaiki niat agar bisa lebih sabar dan ikhlas dalam menuntut ilmu sehingga berkah dapat diraih. Karena, mengejar ketertinggalan ilmu di usia sekarang dengan banyak aktifitas kerja di luar kadang mempengaruhi emosional. Belum lagi ketika deadline pekerjaan yang menumpuk. Akhirnya malah keluhan-keluhan unfaedah yang muncul dan dapat merusak niat yang sudah dibuat sebelumnya. Namun, apapun itu kendalanya mudah-mudahan Allah senantiasa memberi kemudahan dan keistiqomahan. Aamiin...

Repost tugas kemarin ^_^
Ahad, 3 Februari 2019